Sabtu, 15 Oktober 2011

Sejarah Di Desa Tuk Kab Cirebon

bbb

Mulya, Kuwu Desa Tuk yang merupakan sentra emping melinjo- foto Yogi/Lutfi/BN.
Desa Tuk yang berada di Desa Kertawinangun Cideng Jaya ini memiliki sejarah yang sanggat unik karena desa tuk ini memiliki banyak benda – benda keramat seperti kayu perbatang, kerisa si geger dan pendil sewu, dan di desa tuk pun terdapat sumber mata air yang biasa masyarakat sekitar di sebutnya simur keramat mancur jaya.    
Seperti yang di jelaskan oleh kuwu Desa Tuk Mulya (38) di kantornya baru baru ini, Desa Tuk sendiri memiliki arti yaitu semburan air disebut seburan air di karenakan di desa tuk terdapat balong kramat yang airnya tidak pernah surut walaupun musim kemarau dan di desa Tuk terdapat balong keramat terdapat kayu perbatang peninggalan Pangeran Mancur Jaya yang di percaya kayu ini merupakan tongkat pangeran mancur jaya yang di tancapkan ke tanah untuk mendapatkan air yang yang di tancapkannya yaitu tepat di balong keramat pada setiap Pelal yaitu pada Tangal 19 Malam bulan mulud tanggalan jawanya kayu perbatang tersebut di angkat untuk di mandikan dan di ganti kain penutupnya.
Menurut juru kunci Raden Mas Supraja (43) pada abad ke 15 Pangeran Macur Jaya dan sultan matang aji mencari sebuah sumber mata air di karenakan pada waktu itu Cirebon di landa kekeringan, setelanh Pangeran Mancur Jaya melakukan tirakat mendapat wangsit ( petunjuk) agar kayu yang di duduki pangeran mancur jaya agar di tancapkan ke tanah setelah di tancapkan ketanah tiba- tiba munculah air yang cukup banyak dan sejak itu kayu tersebut di tancapkan disitu saja dan sekarang di sekeliling kayu perbatang sudang menjadi balong keramat mancur jaya.
Kayu perbatang ini sendiri setiap tanggal 19 bulan maulud tanggalan jawanya kayu ini diangkat untuk dimandikan dan di gantikan kain penutupnya dan malamnya di masukan kembali kedalam balong keramat mancur jaya, kayu ini tiap tahunnya ukuran berubah- ubah tidak pasti ukurannya, khasiat dari kayu ini dapat membersihkan aura,tolak bala ada makna tersendiri dari setiap ukuran kayu apa bila kayu makin panjang berarti masyarakat sekitar akan mendapatkan rejeki yang cukup.
Balong Keramat Mancur Jaya yang terdapat di Desa Tuk- foto Yogi/Lutfi/BN.
Raden Mas Supraja diangkat oleh keraton kasepuhan sebagai juru kunci kayu perbatang sejak tahun 2007,   ada kejadian yang cukup mengejutkan pada wktu itu kayu perbatang ada yang iseng ingin mencuri tapi bagian pingirnya terkelupas bagian yang terkelupas itu mengeluarkan cairan seperti warna darah.
Dari hasil penelitian yang pernah di lakukan oleh arkolog dari Bogor dan BP3 ( Balai pelestarian peninggalan sejarah) dari serang sampai sekarang masih belum di ketauhi jenis kayu apa hanya para peneliti memberikan bahwa kayu perbatang dari kayu jaman purbakala.
Selain kayu perbatang terdapat juga pusaka seperti pendil sewu peninggalan nyi mas pakung wati keris si geger peninggalan pangeran Mancur Jaya dan tombak-tombak bersejarah kerajaan galuh benda-benda keramat ini pada tanggal 19 malam bulan mulud tanggalan jawa dimandikan.
Ada cerita menarik dari pendil sewu peninggalan nyi mas pakung wati atau nyi mas kresek dan keris si geger peninggalan pangeran Mancur jaya benda ini bisa di katakana sejodoh dikarenakan konon menurut cerita masyarakat sekitar pendil sewu walaupun bentuknya kecil tapi bisa memberi makanan prajurit sampai seribu orang dan bisa berhenti apa bila kris si geger ada di sana, keyakinan ini kuat di yakini masyarakat sekitar karena pernah terjadi kejadian ketika masyarakat mengadakan hajatan nasi tidak pernah habis.
Kegiatan tradisi muludan di tempat lain seperti di Cirebon, Gegesik dan Trusmi yaitu suatu rangkaian dari tradisi, masyarakat sekitar dalam merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad sehingga acara-acara muludan yang ada di daerah lain saling berkaitan karena sama –sama menjaga tradisi dari leluhur dalam menyambut lahirnya Nabi Muhammad selain dalam acara muludan ini bagi masyarakat yang di daerahnya terdapat tradisi muludan dapat meningkatkan perekonomian di daerahnya di karenakan hukum ekonomi berlaku karena terdapatnya penjual dan pembeli sehingga terjadinya transaksi jual beli seperti yang di alami oleh pedagang emping dan kerak goreng (intip nasi yang di beri bumbu sama persis seperti emping) ketika adanya muludan di daerahnya pendapatan mereka bisa meningkat dari hari-hari biasanya.
Kayu perbatang peninggalan Pangeran Mancur Jaya- foto Yogi/Lutfi/BN
Pengrajin emping berawal dari banyaknya pohon melinjo pada waktu itu dan masyarakat sekitar berpikir agar melinjo tidak terbuang maka munculah ide kreatif emping dari melinjo dengan sejalannya waktu di karenakan emping menurut kesehatan apabila makan terlalu banyak bisa terkena asam urat maka masyarakat berinovasi dengan menciptakan kerak goreng yaitu intip nasi yang di beri bumbu deperti emping, makanan di desa tuk ini pernah mendapatkan penyuluhan dari disperindag Provinsi Jawa Barat pada tahun 2007 dan 200 orang mendapatkan depkes geratis.
Mata pencaharian desa tuk ini sekitar 60% bermata pencaharian pengrajin emping dari induk 6 RW   2 dusun dan 40% sebagai pegawai, emping ini di pasarkan ke Banten, Kuningan, Rajagaluh dan untuk luar daerah Cirebon   seperti ke Lampung, Surabaya, Jakarta dan Bandung bahkan emping ini suka di eksport ke negara Malaysia, Arab Saudi dan Taiwan.
Pengrajin emping yang banyak terdapat di desa Tuk sendiri dengan kegiatan Muludan tidak ada kaitan satu sama lain meurut Mulya kuwu desa Tuk kalau muludan hanya pelestarian budaya yang sudah turun temurun dari nenek moyang sedangkan pengrajin emping hanya kegiatan masyarakat dalam mencari rejeki

1 komentar:

ilyas mengatakan...

salam kenal. saya putra daerah di daerah itu, tptnya di cideng pecilon kidul. tulisanY udah ok. tp bnyak mistisnya.

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo